Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

13 September 2012


Menggigit diri sendiri atau orang lain kerap dilakukan balita untuk menyalurkan emosi negatifnya. Selain untuk menyalurkan kekesalannya, gigitan balita juga kerap dilakukannya sebagai upaya untuk menggoda atau menarik perhatian. 

Bagaimana mengatasinya?
  • Bila si kecil menggigit untuk mengekspresikan rasa marah dan frustasi, saat ia mulai menggigit, pegang tangannya dan katakan bahwa ia tidak boleh berbuat demikian. Balita berusia satu tahun sudah mengerti apa yang Anda ucapkan. Jelaskan mengapa Anda melarangnya melakukan sesuatu.
  • Saat ia sudah tenang, ajari si kecil untuk meminta maaf pada orang yang digigitnya. Tujuannya adalah untuk mengasah empati anak.
  • Bila hobi menggigitnya dilakukan untuk menarik perhatian Anda, mungkin Anda perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk bermain bersamanya. Namun, jangan langsung meladeninya begitu ia mulai menggigit. Biarkan ia tenang dulu, agar anak tidak memanipulasi Anda.
  • Bila ada tanda-tanda ia mulai ingin menggigit, alihkan perhatian si kecil pada hal lain. Ajak ia untuk bermain atau bernyanyi. Jangan lupa untuk memuji si kecil bila ia bersikap baik dan tidak menggigit.

AN
Sumber : Parenting
Selanjutnya - Mengatasi Kebiasaan Menggigit Pada Balita

03 September 2012

Jujur
Suatu saat seorang anak sering bersikap tidak jujur kepada orang tuanya. Berbohong memang merupakan salah satu bentuk kenakalan yang sering terjadi pada anak-anak kecil. Mengapa anak suka berbohong? Hal ini macam-macam penyebabnya. 

1. Meniru Tingkah Laku Orang Lain
Kebiasaan berbohong mungkin dipengaruhi oleh tingkah laku orang lain. Jadi berbohong sebagai hasil peniruan dari orang lain, bahkan mungkin dari orang tuanya. Orang tua yang secara jelas menunjukkan sikap tidak jujur kepada orang lain dan dilihat oleh si anak, akan menyebabkan anak mudah menirunya. Sebagai contoh, seorang tamu mencari ayah, tetapi ibu mengatakan tidak ada, karena kedatangan tamu tersebut, tidak berkenan dihatinya. Padahal si ayah ada di rumah. Contoh lain, misalnya ada tamu ingin pinjam uang tetapi si ayah atau ibu mengatakan tidak punya uang, padahal punya uang. Ada lagi contoh yang lebih dekat dengan si anak. Anak minta uang jajan kepada ibunya, tetapi dijawab oleh ibunya kalau tidak punya uang. Tetapi si anak tahu kalau ibunya punya uang, karena baru saja membeli pakaian baru. Adanya kenyataan ini menjadikan persepsi anak salah terhadap orang tuanya. Orang tua ternyata juga suka berbohong. 

2. Pertahanan Diri
Kebanyakan berbohong juga merupakan untuk pertahanan diri bagi si anak, karena takut mendapatkan hukuman dari orang tuanya. Misalnya anak mengambil uang di dompet ibunya tidak mau mengaku kalau di tanya, karena takut kalau dimarahi atau mendapatkan hukuman. Jadi berbohong merupakan cara menghindari hukuman atas pelanggaran yang telah dilakukan. 

3. Menarik Perhatian
Anak suka berbohong, mungkin ingin menarik perhatian dari orang tuanya, karena selama ini orang tua kurang memberikan perhatian kepadanya. 

4. Menyembunyikan Suatu Kekurangan
Berbohong juga dipakai sebagai alat untuk menyembunyikan suatu kekurangan. Misalnya, anak ditanya bagaimana hasil ulangannya di sekolah. Ia mengatakan kalau hasilnya selalu baik, tetpai ternyata setelah rapor diberikan kepada orang tua ketahuan bahwa anak selama ini mengalabui orang tuanya. Prestasi anak ternyata jelek. 

5. Alam Khayal 
Ada lagi faktor yang mempengaruhi anak suka berbohong atau membuai yaitu pengaruh alam khayal, sebagai pengaruh dari cerita-cerita fantasi. Supaya tidak senantiasa tenggelam pada alam khayal, maka anak harus pula ditunjukkan kepada alam kenyataan, agar anak dapat memberdakan mana yang benar-benar dan mana yang tidak benar. Lingkungan rumah perlu diusahakan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan kesan bahwa kehidupan sehari-hari pun juga menyenangkan. Dengan demikian anak tidak memiliki angan-angan yang tidak realistis. 


Sikap Orang Tua 
Kebiasaan berbohong pada anak merupakan kebiasaan yang kurang baik. Kalau terbawa hingga dewasa akan menjadikan akhlak kurang baik. Oleh sebab itu, anak harus dilatih untuk selalu bersikap jujur. Dalam hal ini orang tua memberikan contoh bagaimana menerapkan kejujuran itu. Apabila ada anak yang melakukan pelanggaran, maka orang tua perlu menunjukkan kesalahannya dengan memberikan bukti-bukti dan setelah itu anak diajak berdiskusi untuk menyadari bahwa perbuatan yang telah dilakukan itu salah. Untuk mengingatkan ini, perlu disertai janji, agar anak tidak mengulangi perbuatannya. 

Peraturan larangan kepada anak harus diberikan, dengan sedikit demi sedikit, agar tidak timbul kesan orang tua terlalu keras. Anak harus pula terlatih hidup bermasyarakat, misalnya melalui permaiann yang bersifat sosial. Karena permainan pun dapat dipakai untuk melatih kejujuran. Anak perlu diberi peranan-peranan tertentu untuk melatih percaya diri sendiri dan untuk menunjukkan bahwa orang tua menaruh kepercayaan kepadanya. Misalnya : anak sekali-kali disuruh untuk berbelanja di warung dan bila ada uang kembalian harus sesuai dengan uang yang telah diberikan dan yang telah dibelanjakan. 

Kalau menyangkut masalah prestasi belajar hendaknya orang tua bersikap realistis. Janganlah mengharapkan anak meraih prestasi yang melebihi kemampuannya. Jadi orang tua harus menerima apa adanya. Keterbukaan sikap orang tua kepada anak akan memperkecil kemungkinan anak bersikap kurang jujur kepada orang tuanya, karena ada curahan perhatian dan kasih sayang yang ditujukan kepadanya. 
Selanjutnya - Menanamkan Sikap Jujur Pada Anak-Anak

27 Agustus 2012

Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya. 

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda : 

kesalahan mendidik anak
1. Kurang Pengawasan 
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian. 

2. Gagal Mendengarkan 
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya. 

3. Jarang Bertemu Muka 
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda. 

4. Terlalu Berlebihan 
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh. 

5. Bertengkar Dihadapan Anak 
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak. 

6. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak. 

7. Mengabaikan Kata Hati 
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”. 

8. Terlalu Banyak Nonton TV 
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik. 

9. Segalanya Diukur Dengan Materi 
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam. 

10. Bersikap Berat Sebelah 
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.
Selanjutnya - 10 Kesalahan Mendidik Anak

16 Juni 2009

Berikut ini ada 4 langkah sederhana tips / cara membiasakan anak batita meminta maaf:

1. Contoh langsung
Contohkan bagaimana seharusnya kata maaf diucapkan. Misal, orangtua tak sengaja menumpahkan susu anak, katakan, "Maaf ya, Sayang, Mama tidak sengaja menumpahkan susumu." Begitu juga dengan kesalahan lain yang dilakukan. Dengan demikian diharapkan anak terbiasa melihat orang-orang terdekatnya mengucapkan maaf manakala melakukan kesalahan.


2. Tunjukkan penyesalan dengan bahasa tubuh
Lakukan kontak mata saat mengucapkan kata maaf, sehingga anak bisa merasakan penyesalan yang mengiringi permintaan maaf itu. Menggenggam tangan, memeluk erat, atau mencium juga akan dicontoh anak saat orangtua minta maaf dengan bahasa tubuh seperti itu. Namun sebagai catatan, tegaskan padanya bahwa pelukan dan ciuman penyesalan hanya boleh diberikan pada papa/mama/kakak/adik, sedangkan untuk teman/saudara/orang lain cukup dengan bersalaman. Bahasa tubuh juga efektif untuk batita yang komunikasi verbalnya belum lancar sehingga belum bisa mengucapkan kata maaf.

3. Dorong supaya bertanggung jawab
Selain mengucapkan maaf, minta anak untuk "bertanggung jawab" atas kesalahan yang dilakukannya. Umpama, ia menyenggol temannya sampai jatuh. Nah setelah minta maaf, jika temannya terluka, minta si kecil menyodorkan tisu/plester. Ini sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

4. Berikan apresiasi
Setelah anak mengucapkan kata maaf, berikan apresiasi dalam bentuk pujian, seperti, "Wah, pintar, kamu sudah bisa minta maaf." Hal tersebut sekaligus sebagai penguatan bahwa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diulanginya lagi di lain kesempatan.

PESAN PENTING
Selain cara, orangtua juga harus mengajarkan kapan kata maaf itu diucapkan, yakni saat menyusahkan orang lain, mencelakai orang lain, melanggar janji, melakukan hal-hal yang sudah dilarang, melakukan hal-hal yang tidak disukai orang lain, dan sebagainya. Dengan begitu, yang ditekankan adalah pesan untuk tidak mengulangi kesalahan, bukan semata-mata minta maaf tanpa mengerti alasannya.

Apa jadinya kalau anak yang bersalah tidak dibiasakan meminta maaf?

  • Anak tidak disukai dalam pergaulannya karena tidak biasa minta maaf setelah melakukan kesalahan. Ini akan berakibat pada perkembangan sosialnya. Apalagi kalau sikap masa bodoh ini terbawa sampai usia dewasa.
  • Perkembangan emosinya tidak optimal karena dengan tidak mengakui kesalahan, ia tidak bisa menilai dirinya secara pas.


Oleh Marfuah Panji Astuti
Sumber: Kompas 22 Oktober 2008

Selanjutnya - Tips Membiasakan Anak Meminta Maaf

13 Juni 2009

Berikut ini ada beberapa tips / cara mengajari anak agar menghormati orang yang lebih tua:
Sungkem

1. Hormati anak layaknya orang dewasa.

Setiap orangtua tentu ingin anaknya tumbuh sebagai anak yang berbudi, dan salah satu indikator yang kerap dijadikan ukuran anak berpekerti baik adalah mereka yang menghormati orang tua. Namun, kerap kali orangtua atau orang dewasa pada umumnya luput untuk juga menghormati anak. Sikap hormat selama ini selalu diidentikan dengan menghormati orang yang lebih dewasa.

Padahal, menurut Yusi Elsiano Rosmansyah, praktisi anak, dalam artikelnya di www.perkembangananak.com, sikap hormat tak hanya dilakukan untuk menghormati orang dewasa. Orangtua yang menghormati anak pun akan membuahkan anak yang yang senantiasa menjaga sikap hormat, baik kepada orangtua maupun kepada orang lain.

2. Mulailah menghormati hak-hak anak.

Jika anda ingin sang anak memiliki sikap hormat, mulailah dengan menghormati hak-hak anak. Beri ia ruang dan kebebasan dalam bereksplorasi sejauh itu dalam koridor yang benar. Hormati hak berbicara anak dengan senantiasa memberinya kesempatan untuk mengungkapkan gagasan dan keinginannya.

3. Orang tua seyogyanya juga menerapkan perilaku hormat terhadap orang lain.

Ini harus dilakukan karena anak adalah Great Imitator atau peniru yang ulung. Apa yang orang dewasa lakukan, maka anak memiliki kemampuan untuk menirunya. Jika anda orangtua yang senantiasa menjaga sikap hormat kepada orang lain, niscaya sang anak pun akan tumbuh dengan sikap yang Anda contohkan.
Selanjutnya - Tips Mendidik Anak Menghormati yang Lebih Tua

Membuat si kecil disiplin terhadap peraturan memang tidak mudah. Terkadang Anda harus lebih bersabar dalam mendisiplinkan mereka. Beberapa cara yang diambil orang tua kadang justru membuat si kecil makin bandel atau sebaliknya menjadi penakut. Misalnya, dengan ditakut-takuti dengan hantu atau kecoa. Untuk itu berikut ini tips tepat cara mendisiplinkan Anak:

1. Sebaik-baiknya orang tua adalah yang lebih banyak memberi pengetahuan dibandingkan hukuman. hukuman fisik tidak akan menghasilkan sikap yang baik. Sebanyak mungkin ajarkan apa yang seharusnya kepada mereka daripada sekedar menghukum.

2. Tujuan utama disiplin adalah mengajarkan mereka tingkah laku yang dapat diterima. Memukul anak bukanlah mengajarkan tingkat laku yang benar. Tapi mengajarkan “apa yang dibenarkan” dan tidak akan menyelesaikan masalah.

3. Pandangan seorang anak berperilaku menyimpang, adalah penilaian yang salah. Akan lebih mudah, bila kita berpikir bagaimana mengubah tingkah laku mereka untuk bersika benar.

4. Berikan konsekuensi dari sikap buruk mereka. Jika si kecil mengotori ruangan, ia juga yang harus membersihkan

5. Buat peraturan, tapi pastikan peraturan tersebut sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan si kecil

6. Pastikan konsekuensi itu bersifat jalas dan masuk akal

7. Jangan berdebat atau permisive tentang peraturan tersebut. Jika ia melanggar, ingatkan si kecil akan konsekuensi yang akan ia terima.

8. Saat Anda memberikan perintah, bicaralah dengan kata yang tegas dan terus ingatkan padanya.

9. Jika sikap buruknya terlalu banyak, jangan mencoba merubah seluruh perilakunya dalam waktu singkat. Cobalah untuk merubah perilakunya secara bertahap. Pertama-tama, ubahlah perilakunya yang paling memprihatinkan menurut Anda.

10. Jelaskan mengapa sikapnya itu tidak baik, berikan konsekuensi akibat ulahnya ini dan berika alternatif tingkahlaku yang lebih baik.

Sumber : tipsanda.com

Selanjutnya - Tips Tepat Cara Mendisiplinkan Anak

24 Mei 2009

Banyak lho hal positif yang didapat bila kita menghemat energi. Salah satunya: hemat biaya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menumbuhkan sikap hemat energi listrik di rumah tangga, antara lain adalah menyambung daya listrik dari PLN sesuai dengan kebutuhan, memilih peralatan rumah tangga yang tepat dan sesuai kebutuhan, membentuk perilaku anggota rumah tangga yang hemat listrik, serta menggunakan alat-alat listrik secara bergantian.

Berikut beberapa tip menghemat energi listrik di rumah.

1. Lemari Es
a. Pilih lemari es dengan kapasitas yang sesuai.
b. Buka pintu lemari es seperlunya saja.
c. Usahakan agar isi lemari es tidak melebihi kapasitas dan hindari memasukkan makanan dan minuman yang masih panas ke dalam lemari es.
d. Tempatkan lemari es jauh dari sumber panas, seperti sinar matahari dan kompor.
e. Secara rutin membersihkan kondensor dari debu dan kotoran, agar proses pelepasan panas berjalan baik.
f. Atur suhu lemari es sesuai kebutuhan karena semakin rendah temperature, semakin banyak konsumsi energi listrik.

2. Setrika Listrik

a. Mengatur tingkat panas yang diperlukan sesuai dengan bahan pakaian yang akan disetrika.
b. Membersihkan bagian bawah setrika dari kerak yang dapat menghambat panas.

3. Televisi dan Radio
Matikan televisi, radio, tape recorder, DVD player, serta perlengkapan audio visual lainnya bila tidak ditonton atau tidak didengarkan.

4. Pendingin Udara (AC)

a. Pilih AC hemat energi dan daya yang sesuai dengan besarnya ruangan.
b. Mematikan AC bila ruangan tidak digunakan.
c. Mengatur suhu ruangan secukupnya, tidak usah terlalu dingin.
d. Menutup pintu, jendela dan ventilasi ruangan agar udara panas dari luar tidak masuk.
e. Menempatkan AC sejauh mungkin dari sinar matahari langsung agar efek pendingin tidak berkurang.
f. Membersihkan saringan (filter) udara dengan teratur.

Selanjutnya - Tips Menghemat Listrik di Rumah