06 September 2012

Interview
Kita semua pasti menginginkan pekerjaan baru, terutama yang dapat memberikan benefit-benefit tambahan. Tetapi mencari pekerjaan baru terkadang membutuhkan banyak persiapan dari si pencari kerja, pertama dimulai dari pengisian formulir aplikasi dan diakhiri dengan konfirmasi suatu pekerjaan. Tahapannya, akan selalu ada panggilan interview 

Banyak orang berpikir bahwa mereka perlu memberikan kesan yang baik terhadap diri mereka sendiri hanya pada saat panggilan interview. Ini tidak selamanya benar. Anda dapat selangkah lebih baik dengan memberikan kesan positif terhadap diri Anda sebelum datang ke panggilan interview tersebut. 

Bagaimana cara Anda untuk mendapatkan kesan seperti ini yang nantinya akan membuat calon Bos Anda lebih terasa nyaman sebelum interview dimulai ? 

Sangatlah mudah. Pertahankan komunikasi yang lancar dengan perusahaan. Jangan pernah memutuskan tali komunikasi ini. Perusahaan akan selalu mengira bahwa Anda akan selalu datang untuk interview apabila mereka memanggil Anda. Pada akhirnya, bukankah ini merupakan alasan mengapa Anda mengirimkan aplikasi lamaran pada saat pertama kali bukan ? Mereka begitu percaya terhadap minat anda dan mereka berharap agar Anda datang untuk di interview. Jadi sangatlah alami apabila kita menanggapi kepercayaan perusahaan terhadap diri kita. Kita akan datang untuk panggilan interview pada hari dan tanggal yang sudah ditetapkan. 

Tetapi ada saatnya kita tidak dapat hadir untuk panggilan interview. Dengan beragam alasan, apa yang seharusnya kita lakukan untuk mempertahankan komunikasi terhadap perusahaan? Dapat dengan cara menelpon mereka dan mengatakan bahwa Anda tidak dapat hadir. Mungkin akan ada waktu lain untuk kembali diinterview. 

Ini adalah cara yang harus kita pertahankan dengan membina hubungan yang baik dan professional dengan orang-orang di sekitar kita. Kita buat mereka percaya kepada kita. Siapa tahu, dilain waktu, jika Anda masih berminat untuk posisi yang sama di suatu perusahaan, mereka tidak akan berpikir diri Anda tidak sopan, kurang dewasa atau kurang memiliki kemampuan berkomunikasi. Kadangkala, mereka mungkin akan membuka kesempatan interview kembali untuk Anda. 

Hal inilah yang seharusnya Anda capai.

Source: blog.jobstreet.com
Diterjemahkan oleh: Ethika Santi

Selanjutnya - Teknik Komunikasi Sebelum Interview

03 September 2012

Jujur
Suatu saat seorang anak sering bersikap tidak jujur kepada orang tuanya. Berbohong memang merupakan salah satu bentuk kenakalan yang sering terjadi pada anak-anak kecil. Mengapa anak suka berbohong? Hal ini macam-macam penyebabnya. 

1. Meniru Tingkah Laku Orang Lain
Kebiasaan berbohong mungkin dipengaruhi oleh tingkah laku orang lain. Jadi berbohong sebagai hasil peniruan dari orang lain, bahkan mungkin dari orang tuanya. Orang tua yang secara jelas menunjukkan sikap tidak jujur kepada orang lain dan dilihat oleh si anak, akan menyebabkan anak mudah menirunya. Sebagai contoh, seorang tamu mencari ayah, tetapi ibu mengatakan tidak ada, karena kedatangan tamu tersebut, tidak berkenan dihatinya. Padahal si ayah ada di rumah. Contoh lain, misalnya ada tamu ingin pinjam uang tetapi si ayah atau ibu mengatakan tidak punya uang, padahal punya uang. Ada lagi contoh yang lebih dekat dengan si anak. Anak minta uang jajan kepada ibunya, tetapi dijawab oleh ibunya kalau tidak punya uang. Tetapi si anak tahu kalau ibunya punya uang, karena baru saja membeli pakaian baru. Adanya kenyataan ini menjadikan persepsi anak salah terhadap orang tuanya. Orang tua ternyata juga suka berbohong. 

2. Pertahanan Diri
Kebanyakan berbohong juga merupakan untuk pertahanan diri bagi si anak, karena takut mendapatkan hukuman dari orang tuanya. Misalnya anak mengambil uang di dompet ibunya tidak mau mengaku kalau di tanya, karena takut kalau dimarahi atau mendapatkan hukuman. Jadi berbohong merupakan cara menghindari hukuman atas pelanggaran yang telah dilakukan. 

3. Menarik Perhatian
Anak suka berbohong, mungkin ingin menarik perhatian dari orang tuanya, karena selama ini orang tua kurang memberikan perhatian kepadanya. 

4. Menyembunyikan Suatu Kekurangan
Berbohong juga dipakai sebagai alat untuk menyembunyikan suatu kekurangan. Misalnya, anak ditanya bagaimana hasil ulangannya di sekolah. Ia mengatakan kalau hasilnya selalu baik, tetpai ternyata setelah rapor diberikan kepada orang tua ketahuan bahwa anak selama ini mengalabui orang tuanya. Prestasi anak ternyata jelek. 

5. Alam Khayal 
Ada lagi faktor yang mempengaruhi anak suka berbohong atau membuai yaitu pengaruh alam khayal, sebagai pengaruh dari cerita-cerita fantasi. Supaya tidak senantiasa tenggelam pada alam khayal, maka anak harus pula ditunjukkan kepada alam kenyataan, agar anak dapat memberdakan mana yang benar-benar dan mana yang tidak benar. Lingkungan rumah perlu diusahakan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan kesan bahwa kehidupan sehari-hari pun juga menyenangkan. Dengan demikian anak tidak memiliki angan-angan yang tidak realistis. 


Sikap Orang Tua 
Kebiasaan berbohong pada anak merupakan kebiasaan yang kurang baik. Kalau terbawa hingga dewasa akan menjadikan akhlak kurang baik. Oleh sebab itu, anak harus dilatih untuk selalu bersikap jujur. Dalam hal ini orang tua memberikan contoh bagaimana menerapkan kejujuran itu. Apabila ada anak yang melakukan pelanggaran, maka orang tua perlu menunjukkan kesalahannya dengan memberikan bukti-bukti dan setelah itu anak diajak berdiskusi untuk menyadari bahwa perbuatan yang telah dilakukan itu salah. Untuk mengingatkan ini, perlu disertai janji, agar anak tidak mengulangi perbuatannya. 

Peraturan larangan kepada anak harus diberikan, dengan sedikit demi sedikit, agar tidak timbul kesan orang tua terlalu keras. Anak harus pula terlatih hidup bermasyarakat, misalnya melalui permaiann yang bersifat sosial. Karena permainan pun dapat dipakai untuk melatih kejujuran. Anak perlu diberi peranan-peranan tertentu untuk melatih percaya diri sendiri dan untuk menunjukkan bahwa orang tua menaruh kepercayaan kepadanya. Misalnya : anak sekali-kali disuruh untuk berbelanja di warung dan bila ada uang kembalian harus sesuai dengan uang yang telah diberikan dan yang telah dibelanjakan. 

Kalau menyangkut masalah prestasi belajar hendaknya orang tua bersikap realistis. Janganlah mengharapkan anak meraih prestasi yang melebihi kemampuannya. Jadi orang tua harus menerima apa adanya. Keterbukaan sikap orang tua kepada anak akan memperkecil kemungkinan anak bersikap kurang jujur kepada orang tuanya, karena ada curahan perhatian dan kasih sayang yang ditujukan kepadanya. 
Selanjutnya - Menanamkan Sikap Jujur Pada Anak-Anak

30 Agustus 2012

Profesional
Dalam hal apa saja, terutama dalam hal pekerjaan biasanya kita dituntut untuk profesional. Memang tidak mudah, namun keprofesionalan menunjukkan identitas dan kualitas suatu kepribadian. 

Alangkah baiknya bila kita mampu menanamkan identitas diri tersebut di dalam diri kita. Syarat-syarat seorang profesional sejati dapat ditunjukkan dengan cara: 
  1. Bangga terhadap pekerjaannya dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas pekerjaan. 
  2. Berusaha meraih tanggung jawab atau tidak menghindar dari suatu tanggung jawab. 
  3. Antisipatif, tidak menunggu perintah tetapi menunjukkan inisiatif. 
  4. Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah ditetapkan. 
  5. Merupakan pemain dalam suatu tim. 
  6. Jujur, bisa dipercaya dan setia. 
  7. Terbuka pada kritik-kritik yang membangun.
Selanjutnya - Seorang Profesional Sejati

27 Agustus 2012

Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya. 

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda : 

kesalahan mendidik anak
1. Kurang Pengawasan 
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian. 

2. Gagal Mendengarkan 
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya. 

3. Jarang Bertemu Muka 
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda. 

4. Terlalu Berlebihan 
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh. 

5. Bertengkar Dihadapan Anak 
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak. 

6. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak. 

7. Mengabaikan Kata Hati 
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”. 

8. Terlalu Banyak Nonton TV 
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik. 

9. Segalanya Diukur Dengan Materi 
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam. 

10. Bersikap Berat Sebelah 
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.
Selanjutnya - 10 Kesalahan Mendidik Anak

23 Agustus 2012

Banyak orang yang ingin berkembang, tapi banyak juga dari mereka yang bingung bagaiamana atau darimana harus memulai. Berikut 16 cara praktis untuk membantu anda dalam mengembangkan kemampuan diri. 

1. Membaca buku setiap hari 
Tidak ada cara yang lebih mudah dalam menambah pengetahuan untuk mengembangkan diri kecuali membaca buku. Membaca buku setiap hari akan membuka wawasan dan pengetahuan anda mengenai ilmu-ilmu pengembangan diri yang sedang tren saat ini. 

2. Mempelajari bahasa baru 
Berapa banyak bahasa yang anda kuasai saat ini? tiga? empat? atau lima bahasa? Semakin banyak bahasa yang anda kuasai, maka semakin tinggilah nilai jual anda, dan tentu saja otak anda akan lebih bermafaat.

3. Cari hobi baru 
Jangan pernah meremehkan hobi, jika anda merasa hobi adalah aktifitas buang-buang waktu, maka anda harus berfikir ulang. Selain bisa membuat rileks yang akhirnya berimbas pada ‘kesegaran’ pikiran, hobi juga bisa menghasilkan keuntungan, baik materi atau tidak. Carilah hobi baru, jika anda suka olahraga dan penyuka futsal, maka pelajari juga olahraga lain seperti renang misalnya. 

4. Ambillah kursus 
Mengikuti kursus merupakan cara lain untuk mengembangkan kemampuan anda. 

5. Ciptakan ruangan ‘kreatif’ 
Ruangan yang kreatif akan merangsang otak kita untuk menciptakan sesuatu yang kreatif juga. Buatlah ruang kerja anda ‘berbeda’, jangan hanya sebuah ruangan kotak yang menjemukan yang seolah-olah mengusir anda untuk segera pulang.

6. Tingkatkan kemampuan anda 
Sejauh mana kemampuan Public Speaking anda? atau sudah berapa teknik wawancara yang anda kuasai? Tingkatkan kemampuan yang anda miliki hingga anda merasa ahli pada kemampuan tersebut. Jangan pernah berhenti untuk terus mengembangkan kemampuan anda. 

7. Bangun lebih pagi 
Jika anda bangun lebih pagi itu artinya waktu untuk mengerjakan hal-hal produktif ikut bertambah. 

8. Miliki waktu olaharaga secara rutin 
Kemampuan sebaik apapun tidak akan bisa maksimal jika kondisi badan anda tidak sehat. Buatlah waktu rutin untuk berolahraga, jangan sampai kemampuan anda tertutup penyakit yang sering menghampiri tubuh anda. 

9. Menulis 
Menulis merupakan salah satu aktifitas yang mampu mengasah kemampuan otak anda secara penuh. Jurnal, buku atau blog bisa menjadi alternatif untuk memulai tulisan pertama anda. 

10. Keluar dari rutinitas 
Salah satu hal yang membuat kreatifitas macet adalah rutinitas. Keluarlah dari rutinitas anda. Contoh sederhana, cobalah anda berangkat ke kantor dengan rute yang berbeda dari biasanya. 

11. Mintalah umpan balik 
Umpan balik atau feedback merupakan hal penting untuk mengukur sejauh mana hasil yang anda dapat. Mintalah umpan balik dari rekan kerja atau keluarga dan gunakan hal itu sebagai acuan untuk mengembangkan kemampuan diri anda. 

12. Belajar dari orang lain 
“Bahkan orang bodoh-pun bisa benar”, demikian kira-kira istilah yang tepat untuk menggambarkan point ini. Setiap orang unik dan setiap orang merupakan guru bagi kita. Jangan merasa bahwa anda merasa lebih pintar dalam segala hal, tetaplah rendah hati dan mau membuka diri terhadap orang lain. 

13. Keluar dari kebiasaan buruk 
Sering terlambat masuk kantor? atau sering mengingkari janji? itu adalah beberapa contoh kebiasaan buruk. Segera tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk anda. Kebiasaan buruk sekecil apapun bisa mengakibatkan hambatan dalam mengembangkan kemampuan anda. 

14. Mulailah berbisnis 
Berbisnis merupakan suatu hal yang sangat menantang. Banyak pengalaman yang akan anda dapatkan dari berbisnis. Jadi jangan ragu, walaupun kecil, belajarlah untuk berbisnis. 

15. Tentukan waktu istirahat 
Manusia memiliki batas, bahkan mesin-pun butuh istirahat. Atur waktu istirahat anda, dan tepati itu. 

16. Patuhi komitmen 
Sebaik apapun rencana yang anda buat, sebaik apapun tools dan fasilitas yang anda punya, tanpa sebuah komitmen maka rencana dan mimpi anda mustahil untuk terwujud. Jaga selalu komitmen dan konsisten pada mimpi dan tujuan anda.
Selanjutnya - 16 Cara Praktis Untuk Mengembangkan Diri

16 Agustus 2012

Bagi kebanyakan orang pengembangan diri masih merupakan kata yang abstrak. Apa itu cuma sekedar pemberian motivasi ketika Anda sedang down? Apa hubungan pengembangan diri dengan kreatifitas? Kapan itu harus dilakukan? 

Dari sekian banyak pengertian mengenai pengembangan diri, saya ingin menyimpulkan bahwa pengembangan diri dimulai dari pengetahuan tentang: 
  1. Siapa diri kita 
  2. Apa yang kita mau dan tujuan kita 
  3. Apa yang kita punya untuk mencapai tujuan itu 
Tiga hal ini menjadi peta dasar untuk pengembangan diri kita. Untuk mencapai apa yang kita mau kita harus tahu siapa diri kita dan apa yang kita punya untuk mencapai tujuan itu. Dari sana kita bisa menyiapkan diri dengan belajar, berusaha, dan bekerja. 

Pengembangan diri merupakan topik yang luas karena didalamnya ada manajemen waktu, personal goal setting, creative thinking, self healing, motivation, problem solving dan masih banyak lagi. Tetapi kita selalu kembali ke 3 hal diatas karena pengembangan diri merupakan proses yang harus terjadi di dalam DIRI SENDIRI, bukan orang lain. Artinya kita menciptakan kondisi baru di luar dengan melakukan perubahan di dalam diri sendiri.
Selanjutnya - Pengembangan Diri - Dimulai dari mana?